Pendidikan Masyarakat Samin
Humanistic Studies
Masyarakat Samin merupakan peninggalan prasejarah
pada masa penjajahan Belanda. Kutipan yang saya dapat dari vidio yang berjudul
Lari Dari Blora, bahwasanya saminisme adalah gerakan masyarakat tani untuk
memperjuangkan wilayah pertanian hutan jatinya dari penjajahan Belanda. Oleh karena itu, mereka
mempunyai prinsip tersendiri untuk melawan kesewenangan penjajahan Belanda
tersebut. Prinsip mereka adalah tidak menyukai polisi, hidup semaunya, jujur
atau saling mempercayai, hidup dari alam dan mereka tidak menyukai negara.
Sebagai generasi pendidik penerus bangsa. Saya
sangat tidak setuju jikalau mereka dibiarkan tetap dengan pandangan atau
kondisi seperti itu. Berdasarkan sudut pandang diri saya pribadi, masyarakat Samin
sebenarnya tidak salah akan ketertinggalan mereka. Tetapi, alangkah lebih
baiknya mereka mengembangkan budaya atau prinsip mereka melalu pendidikan. Lalu
dari prinsip masyarakat Samin tidak menyukai negara, menurut pendapat pribadi
saya adalah hanya tidak menyukai pada saat penjajahan itu saja. Barangkali,
dari tokoh yang berpengaruh, masyarakat Samin sudah menanamkan pola pikir akan
kehidupan masyarakat yang menentang negara. Sedangkan yang dimaksudkan menentang
negara disini adalah negara Indonesia pada waktu jaman jajahan Belanda. Oleh
sebab itu, terbawalah prinsip mereka akan tidak menyukai negara sampai saat
ini.
Dalam pemikiran saya untuk mendidik masyarakat Samin
tidaklah mudah. Mereka mungkin ingin mengubah kehidupan mereka, tetapi pihak
lainlah yang tidak sependapat mengenai hal tersebut. Pihak-pihak yang menentang
untuk mendidik masyarakat Samin kemungkinan alasan yang paling mendasar adalah
ditakutkannya masyarakat Samin akan lenyap. Mendidik mereka tanpa adanya
perselisihan, begitu juga dengan tetap menghargai dan mempertahankan masyarakat
Samin sangatlah berat.
Pertikaian Sedulur Sikep
Keaslian
masyarakat Samin haruslah dihargai dan tetap dijaga, namun pendidikan demi
memajukan bangsa haruslah mereka miliki. Menurut pemikiran saya, saya sebagai
generasi pendidik selanjutnya akan mendidik mereka dengan cara-cara yang dapat
diterima oleh mereka. Dengan mempelajari multikulturalisme merupakan salah satu
jalan untuk mendidik mereka. Saling menghargai dan memahami satu sama lain,
diharapkan akan terciptanya keharmonian hidup tanpa meyebabkan pertikaian
dikedepannya.
Pendidikan bagi sedulur Sikep atau masyarakat Samin
menjadi perbincangan yang tidaklah asing lagi. Namun ini menjadi hal yang
sangat menantang di era moderen ini. Waktu yang akan datang, masyarakat Samin
masihkah akan tetap tertinggal, akankah mereka mengikuti perkembangan jaman
dengan tetap mempertahankan keaslian mereka ataukah hilang tertelan waktu. Itulah
pertanyaan yang ada dalam pikiran saya.
Mengingat kembali dari vidio yang berjudul Lari Dari
Blora, bahwasanya mereka sebenarnya tidak menolak akan pendidikan. Tetapi,
dikarenakan pihak negaralah yang membuat mereka takut untuk bersekolah. Negara
yang dimaksudkan disini adalah Bapak Lurah. Alasan negara menolak yang paling
utama adalah keberadaan masyarakat Samin sendiri yang sangat langka. Banyak
para peneliti dari dalam maupun luar negeri untuk meneliti akan masyarakat
Samin sendiri. Disinilah alasan terkuat pihak negara yaitu demi menjaga
multikulturalisme yang telah diutarakan Bapak Lurah kepada Pak Ramadani,
salah satu guru yang berusaha mendidik dan memajukan masyarakat Samin.
Kemungkinan cara saya untuk mendidik mereka, hal-hal
yang akan saya lakukan adalah mendekatkan diri kepada masyarakat Samin, menjelaskan
pentingnya pendidikan demi perkembangan dan kemajuan bangsa, berupaya untuk
memahami pola pikir mereka, mencoba untuk menghargai pendapat mereka, dan
mengajak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa adanya unsur
pemaksaan. Tetapi, memberikan pendidikan kepada mereka mungkin tidak diberikan
secara formal terlebih dahulu, melainkan dengan belajar bersama mereka melalui
alam dengan memberikan unsur-unsur persuasif dengan memberikan materi-materi
pembelajaran. Dari sinilah, akan saya usulkan sistem pendidikan formal dengan
sistem belajar secara alami. Alami disini merupakan sistem pendidikan khusus
untuk masyarakat Samin yang berprinsip hidup dari alam dan tidak menyukai
negara. Bentuk sistem pendidikan ini untuk menghindari prinsip mereka mengenai
negara, saya akan mengusulkan tidak perlunya tempat atau gedung sekolah,
melainkan hanya para guru yang mendatangi mereka dan mau mengajar mereka di
alam. Melalui sistem inilah, diharapkan akan menjadi salah satu solusi yang
terbaik untuk mengajak masyarakat Samin ke arah yang lebih baik dan tertanam
dari dalam diri mereka, bahwasanya pendidikan itu sangatlah penting demi
memajukan bangsa tanpa meninggalkan keorisinilan mereka.
Multikulturalisme disini sangatlah berperan aktif.
Menurut Fay (1996) yang dikutip oleh Nurkhoiron (2007) bahwasanya masyarakat
individu seperti masyarakat Samin seperti ini sangatlah perlu dipahami sebagai
masyarakat individu melalui multikulturalisme. Sehingga akan terciptalah
keserasian dan keharmonisan di antara kedua belah pihak. Masyarakat Samin pastinya mempunyai tujuan
mengapa mereka mempertahankan dan menjadi masyarakat yang masih tradisional. Tetapi,
ini tidak menutup kemungkinan untuk memahami dan mendidik mereka menjadi masyarakat
yang maju dan sejahtera juga tetap memelihara komunitas mereka. Pemahaman
antara satu dengan yang lain di masyarakat Samin ini diperlukan sangat besar.
Setelah dapat memahami apa yang ada dalam masyarakat Samin ini, kemungkinan
besar untuk mendapatkan kepercayaan mereka dalam memajukan masyarakat mereka
menjadi lebih baik dapat muncul dari dalam diri mereka. Sehingga pendidikan
dapat tersalurkan dengan baik terhadap mereka, sesuai dengan pemahaman dan
kepentingan mereka.
Menurut pendapat intisari pribadi saya, bahwasanya
melalui memahami multikulturalisme ini, saya dapat menerapkannya di seluruh
adat atau etnis dan komunitas yang menjadi minoritas sebagai alat untuk
mendidik mereka menjadi lebih baik. Keberagaman menurut saya, memerlukan
pemahaman antara satu sama lain, sehingga terjadilah keserasian dan tidak menimbulkan pertikaian.
Daftar Pustaka
Nurkhoirun,
M. (2007). Minoritas dan Agenda
Multikulturalisme di Indonesia: Sebuah Catatan Awal. Jakarta: The Intereksi
Foundation.
Massaidah,
Egy (Producer), & Suryapati, Akhlis (Director). (2007). Lari Dari Blora [Motion Picture].
Indonesia: Ibar Pictures Homepage.