WELCOME

Welcome readers!!! Don't Forget To Leave Your Comment.

Friday, October 25, 2013

Pendidikan Masyarakat Samin



Pendidikan Masyarakat Samin
Humanistic Studies
Masyarakat Samin merupakan peninggalan prasejarah pada masa penjajahan Belanda. Kutipan yang saya dapat dari vidio yang berjudul Lari Dari Blora, bahwasanya saminisme adalah gerakan masyarakat tani untuk memperjuangkan wilayah pertanian hutan jatinya dari penjajahan Belanda. Oleh karena itu, mereka mempunyai prinsip tersendiri untuk melawan kesewenangan penjajahan Belanda tersebut. Prinsip mereka adalah tidak menyukai polisi, hidup semaunya, jujur atau saling mempercayai, hidup dari alam dan mereka tidak menyukai negara.
Sebagai generasi pendidik penerus bangsa. Saya sangat tidak setuju jikalau mereka dibiarkan tetap dengan pandangan atau kondisi seperti itu. Berdasarkan sudut pandang diri saya pribadi, masyarakat Samin sebenarnya tidak salah akan ketertinggalan mereka. Tetapi, alangkah lebih baiknya mereka mengembangkan budaya atau prinsip mereka melalu pendidikan. Lalu dari prinsip masyarakat Samin tidak menyukai negara, menurut pendapat pribadi saya adalah hanya tidak menyukai pada saat penjajahan itu saja. Barangkali, dari tokoh yang berpengaruh, masyarakat Samin sudah menanamkan pola pikir akan kehidupan masyarakat yang menentang negara. Sedangkan yang dimaksudkan menentang negara disini adalah negara Indonesia pada waktu jaman jajahan Belanda. Oleh sebab itu, terbawalah prinsip mereka akan tidak menyukai negara sampai saat ini.
Dalam pemikiran saya untuk mendidik masyarakat Samin tidaklah mudah. Mereka mungkin ingin mengubah kehidupan mereka, tetapi pihak lainlah yang tidak sependapat mengenai hal tersebut. Pihak-pihak yang menentang untuk mendidik masyarakat Samin kemungkinan alasan yang paling mendasar adalah ditakutkannya masyarakat Samin akan lenyap. Mendidik mereka tanpa adanya perselisihan, begitu juga dengan tetap menghargai dan mempertahankan masyarakat Samin sangatlah berat.

Pertikaian Sedulur Sikep

            Keaslian masyarakat Samin haruslah dihargai dan tetap dijaga, namun pendidikan demi memajukan bangsa haruslah mereka miliki. Menurut pemikiran saya, saya sebagai generasi pendidik selanjutnya akan mendidik mereka dengan cara-cara yang dapat diterima oleh mereka. Dengan mempelajari multikulturalisme merupakan salah satu jalan untuk mendidik mereka. Saling menghargai dan memahami satu sama lain, diharapkan akan terciptanya keharmonian hidup tanpa meyebabkan pertikaian dikedepannya.
Pendidikan bagi sedulur Sikep atau masyarakat Samin menjadi perbincangan yang tidaklah asing lagi. Namun ini menjadi hal yang sangat menantang di era moderen ini. Waktu yang akan datang, masyarakat Samin masihkah akan tetap tertinggal, akankah mereka mengikuti perkembangan jaman dengan tetap mempertahankan keaslian mereka ataukah hilang tertelan waktu. Itulah pertanyaan yang ada dalam pikiran saya.
Mengingat kembali dari vidio yang berjudul Lari Dari Blora, bahwasanya mereka sebenarnya tidak menolak akan pendidikan. Tetapi, dikarenakan pihak negaralah yang membuat mereka takut untuk bersekolah. Negara yang dimaksudkan disini adalah Bapak Lurah. Alasan negara menolak yang paling utama adalah keberadaan masyarakat Samin sendiri yang sangat langka. Banyak para peneliti dari dalam maupun luar negeri untuk meneliti akan masyarakat Samin sendiri. Disinilah alasan terkuat pihak negara yaitu demi menjaga multikulturalisme yang telah diutarakan Bapak Lurah kepada Pak Ramadani, salah satu guru yang berusaha mendidik dan memajukan masyarakat Samin.
Kemungkinan cara saya untuk mendidik mereka, hal-hal yang akan saya lakukan adalah mendekatkan diri kepada masyarakat Samin, menjelaskan pentingnya pendidikan demi perkembangan dan kemajuan bangsa, berupaya untuk memahami pola pikir mereka, mencoba untuk menghargai pendapat mereka, dan mengajak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa adanya unsur pemaksaan. Tetapi, memberikan pendidikan kepada mereka mungkin tidak diberikan secara formal terlebih dahulu, melainkan dengan belajar bersama mereka melalui alam dengan memberikan unsur-unsur persuasif dengan memberikan materi-materi pembelajaran. Dari sinilah, akan saya usulkan sistem pendidikan formal dengan sistem belajar secara alami. Alami disini merupakan sistem pendidikan khusus untuk masyarakat Samin yang berprinsip hidup dari alam dan tidak menyukai negara. Bentuk sistem pendidikan ini untuk menghindari prinsip mereka mengenai negara, saya akan mengusulkan tidak perlunya tempat atau gedung sekolah, melainkan hanya para guru yang mendatangi mereka dan mau mengajar mereka di alam. Melalui sistem inilah, diharapkan akan menjadi salah satu solusi yang terbaik untuk mengajak masyarakat Samin ke arah yang lebih baik dan tertanam dari dalam diri mereka, bahwasanya pendidikan itu sangatlah penting demi memajukan bangsa tanpa meninggalkan keorisinilan mereka.
Multikulturalisme disini sangatlah berperan aktif. Menurut Fay (1996) yang dikutip oleh Nurkhoiron (2007) bahwasanya masyarakat individu seperti masyarakat Samin seperti ini sangatlah perlu dipahami sebagai masyarakat individu melalui multikulturalisme. Sehingga akan terciptalah keserasian dan keharmonisan di antara kedua belah pihak.  Masyarakat Samin pastinya mempunyai tujuan mengapa mereka mempertahankan dan menjadi masyarakat yang masih tradisional. Tetapi, ini tidak menutup kemungkinan untuk memahami dan mendidik mereka menjadi masyarakat yang maju dan sejahtera juga tetap memelihara komunitas mereka. Pemahaman antara satu dengan yang lain di masyarakat Samin ini diperlukan sangat besar. Setelah dapat memahami apa yang ada dalam masyarakat Samin ini, kemungkinan besar untuk mendapatkan kepercayaan mereka dalam memajukan masyarakat mereka menjadi lebih baik dapat muncul dari dalam diri mereka. Sehingga pendidikan dapat tersalurkan dengan baik terhadap mereka, sesuai dengan pemahaman dan kepentingan mereka.
Menurut pendapat intisari pribadi saya, bahwasanya melalui memahami multikulturalisme ini, saya dapat menerapkannya di seluruh adat atau etnis dan komunitas yang menjadi minoritas sebagai alat untuk mendidik mereka menjadi lebih baik. Keberagaman menurut saya, memerlukan pemahaman antara satu sama lain, sehingga terjadilah keserasian dan tidak menimbulkan pertikaian.

Daftar Pustaka

Nurkhoirun, M. (2007). Minoritas dan Agenda Multikulturalisme di Indonesia: Sebuah Catatan Awal. Jakarta: The Intereksi Foundation.

Massaidah, Egy (Producer), & Suryapati, Akhlis (Director). (2007). Lari Dari Blora [Motion Picture]. Indonesia: Ibar Pictures Homepage.  

No comments:

Post a Comment